Posted in Places

Ancol

Selain karena memang gue sudah lama nggak ke Ancol, gara-gara di televisi diberitakan keramaian orang yang berenang disekitar pantai Ancol, akhirnya kemarin gue kesana. Soalnya gue heran, kenapa orang mau-maunya berenang disana. ha ha ha.

Gue kesana naik busway. Biasanya sih gue memakai mobil sendiri. Tapi pasti bakal susah mencari parkir yang kosong karena Ancol lagi ramai-ramainya. Walaupun naik busway pun juga ramai sih. Tapi ramainya hanya di terminal Dukuh Atas 2. Itupun ramai karena banyak orang-orang yang menuju ke Ragunan. Sedangkan gue ke Ancol. Selebihnya lancar jaya lah.

O iya, pas gue lagi di terminal tersebut. Ada petugas busway yang nyeletuk ketika melihat banyak pasangan muda-mudi yang menunggu bis ke Ragunan, “ngajak pacar kok ke Ragunan, ke Ancol dong!”. Langsung diteriakin “Boo” sama yang ada disana sambil pada ketawa. hi hi.

Sampai di terminal Ancol sekitar jam 12.00 kurang. Dalam satu terminal tersebut menyatu sama loket untuk membeli tiket masuk Ancol yang harganya 11.000/orang.

Sepertinya yang memanfaatkan pergi ke Ancol dengan menggunakan busway sedikit. Ini terlihat dari cepatnya gue mendapatkan tiket. Nggak perlu mengantri.

Keluar dari terminal busway, langsung mencari peta. Soalnya gue benar-benar nggak tahu lokasi tepatnya gue berada. Untungnya nggak jauh dari terminal, ada peta. Ternyata gue ada di ujung timur Ancol. Dan untuk menuju ke pantai Ancol, gue kudu berjalan kaki ke utara.

Ketika gue berjalan menuju ke pantai Ancol, disebelah kiri gue ada dermaga dan juga rumah-rumah yang ukurannya gede banget! Berapaan ya harganya? Bikin ngiler melihatnya.Tapi apa enak tinggal disini? Kan panas banget. Apalagi pemandangannya nggak asik. *sirik mode on*

Sesampai diujung timur pantai Ancol, tidak banyak orang yang berkumpul-kumpul disini. Karena memang orang nggak bisa berenang disekitar sini. Tapi ada papan pengumuman yang bikin ngakak.

Memangnya masih ada mahluk yang bisa hidup di perairan sekitar Ancol? Hi hi.😛

Rencananya gue mau menyelusuri pantai dari ujung ke ujung. Dari ujung timur ke barat. Sampai saat itu, gue masih belum sadar betapa jauhnya perjalanan yang bakal gue tempuh.

Ternyata gue salah. Karena belum lama gue menyusuri pantai, gue ketemu sama penjual yang menjual ubur-ubur. Dan gue rasa sih ini diambil dari laut sekitar Ancol. Masih ada mahluk hidup ternyata. Tapi kasihan juga sama ubur-uburnya. Seandainya ada orang yang beli, gimana cara merawatnya?

Ternyata memang ramai banget yang berenang di pantai. Kok pada berani sih? Apa mereka nggak takut gatel-gatel yah?

Nggak hanya penuh dengan orang-orang yang berenang, disemua bagian Ancol penuh dengan para pengunjung. Ditambah cuaca yang terik banget dan sampah-sampah yang menggunung, cukup heran bisa melihat banyak orang yang bisa menikmati keadaan yang kayak begini. Gue sendiri sih males banget dah.

Ada satu wahana yang pengen gue coba sewaktu ada di Ancol. Yaitu naik Gondola (kereta gantung). Sekilas gue lihat kok sepertinya tidak banyak orang yang mengantri di loket. Padahal gue yakin bakal banyak orang yang tertarik naik ini. Ternyata pas gue sampai didepan loket, tertera kalau harga tiket naik gondola adalah Rp. 40.000! Mahal. Pantes saja nggak banyak yang mengantri. Mungkin langsung mengurungkan niatnya setelah melihat harga tiketnya (termasuk gue).

Di pantai Ancol, ada beberapa wahana yang bisa kalian coba. Seperti:

  • Perahu nelayan: Rp. 10.000/orang
  • Speed boat: Rp. 60.000/orang
  • Perahu Angsa: Rp. 25.000/30 menit

Setelah cukup lama berjalan, akhirnya sampai juga gue di ujung barat pantai Ancol. Gila. Capek banget. Dan kayaknya gue nggak sanggup buat berjalan kaki lagi menuju ke ujung timur pantai buat naik busway.

Beruntungnya gue, baru 1/4 perjalanan gue lalui, gue melihat bis yang ada tulisan “gratis”. Ternyata Ancol menyediakan bis gratis yang bisa mengantarkan kita ke berbagai lokasi disana. Hore, langsung saja gue naik.

Tapi diperjalanan, kok bisnya malah ke luar dari Ancol? Ah sial, ternyata gara-gara seluruh penumpangnya pada turun di stasiun kereta Ancol (yang terletak diluar Ancol), bisnya harus keluar dulu. Sayangnya kalau sudah keluar, nggak bisa masuk kedalam Ancol. Padahal letak terminal busway Ancol ada didalam Ancol.

Setelah bertanya ke sopir bis tersebut, gue dianjurkan buat nyambung saja naik angkot menuju terminal busway terdekat. Yo wes, akhirnya gue turun dan naik angkot deh. Untungnya diperjalanan pulang, gue selalu dapat tempat duduk. Capek banget bo’!

Sedikit tips kalau pada mau ke Ancol. Mending bawa makanan dan minuman sendiri dari rumah dibanding beli di Ancol. Mahal kalau beli di Ancol. Harganya bisa 100% lebih mahal. Gue beli air mineral botol di sana harganya Rp. 4000. Padahal kalau beli di swalayan cuma Rp. 1500.

Berikut daftar harga yang gue jepret. Daftar 1 dan daftar 2.

One thought on “Ancol

  1. Sy rasa tempat rekreasi taman impian jaya ancol itu seru seru hiburanya dan sesuai dengan harga tiket masuk nya akan tetapi yang sangat di sayangkan adalah harga makanan dan minuman yang harganya bisa lebih mahal daripada harga umum mencapai 150% nya dari harga umum harganya sangat sangat tidak wajar example : sy pernah beli kopi item kapal api yang biasanya harga Rp.1500,- s/d Rp.2000,- di ancol harganya mencapai Rp.5000,- sungguh tidak wajar yang padahal kita tau harga per sachet nya paling mahal Rp.1000,-
    Yang ingin saya tanyakan apa yang membuat harga makanan di ancol sngat beditu mahal??
    Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s