Posted in Curhat

Masih Tentang MOS

Barusan gue baca salah satu tulisan di blognya Wimar Witoelar, Stop Kekerasan Berkedok Orientasi Studi!!. Pada intinya, gue sih setuju-setuju saja dengan SEBAGIAN BESAR yang ditulis disana. Tapi ada yang gue nggak setuju di 2 paragraf terakhir. Ini kutipannya:

Perlu diperhatikan, budaya kekerasan yang dipertahankan dalam Masa Orientasi Studi sangat beda dengan praktek perploncoan yang dulu (dan sekarang) pada organisasi mahasiswa local. Dalam tradisi perploncoan yang berkembang lama dalam sejarah kemahasiswaan, tujuan dan bentuk perploncoan ditekankan pada cobaan mental. Aspek fisik perploncoan dipakai untuk membuat peserta lebih peka terhadap tekanan mental sesaat, bukan membuat mereke menderita.

MOS yang umum dijalankan sekarang adalah laboratorium politik kekuasaan, dimana senior yang berkuasa melampiaskan nafsu primitive pada siswa yang  terpaksa mengikuti program ini. Hentikan program ini, tangkap dan adili pelaku kekerasan, dalam MOS maupun dalam masyarakat luas Indonesia.

Gue memang nggak merasakan langsung perploncoan tahun 80-an atau tahun-tahun sebelumnya. Tapi kalau melihat film-film tahun 80-an yang kadang-kadang ditayangkan ditelevisi, yang ada adegan perploncoan, isi perploncoannya itu sama saja kok.

Mulai “ngerjain” siswa baru, membentak-bentak, harus berpakaian yang konyol, diberi tugas yang aneh-aneh dan seandainya nggak bisa mengerjakan tugas, dikasih hukuman dan semuanya itu dilakukan oleh siswa senior.

Jadi aneh juga ketika penulis blog tersebut membandingkan perploncoan jaman dulu dengan yang sekarang. Sepertinya si penulis menganggap perploncoan jaman dulu beda dengan jaman sekarang. Padahal gue lihat SAMA SAJA.

Dan kalau ngomongin tujuan diadakan MOS, gue pernah menonton di televisi pihak yang menyelenggarakan MOS diwawancara. Dan dia mengungkapkan kalau tujuannya mengadakan MOS adalah untuk memperkuat mental siswa dan menjalin hubungan antara siswa baru dengan siswa lama.

Jadi sama saja kan perploncoan jaman dulu dengan jaman sekarang? Lagian, yang namanya tujuan MOS/OSPEK atau apapun lah namanya, pasti bertujuan untuk kebaikan. Makanya acara kayak begini bisa sampai terselenggara. Tapi kan perlu diperhatikan cara mencapai tujuan dan keefektifan cara tersebut. Jadi nggak usah ngomong tujuan.

Pertanyaannya sekarang, efektif nggak MOS/OSPEK? Apakah siswa yang mengikuti MOS/OSPEK, memiliki mental yang lebih kuat dibanding dengan siswa yang tidak mengikuti? Apakah siswa yang mengikuti MOS/OSPEK lebih mudah berteman dibanding yang tidak mengikuti?

Kalau buat gue sih pertanyaan diatas sudah terjawab. MOS/OSPEK sama sekali NGGAK ADA gunanya. Mau gaya jaman dulu atau jaman sekarang, SEMUA SAMA SAJA. Tradisi tolol yang sampai-sampai harus ada jatuh korban. Pokoke buat gue, BUBARIN MOS/OSPEK DAN ACARA SEJENISNYA!

Lega! Gue seringkali jadi esmosi tiap ngebahas perploncoan kayak begini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s